Cerita Mitos Tanjakan Emen dan Sebatang Rokok

0

Cerita Mitos – Tanjakan Emen dan Sebatang Rokok: Mobil hitam bak terbuka pengangkut sayuran tujuan Subang. Itulah tumpangan gratis saya yang pertama. Kami berangkat saat hari menjelang gelap.

Langit senja dikerumuni awan gelap sisa hujan. Genangan air di kubangan menghalangi langkah anak kecil sepulang sekolah.

Menyasar mobil pengangkut sayur sebagai tumpangan bukan tanpa alasan. Melaluinya, saya ingin mengalami langsung seperti apa kiranya berkendara mengangkut cabai, kol, dan hasil bumi lainnya menuju Subang seperti yang Emen lakukan pertengahan 1960-an silam.

Bagi yang belum tahu, nama Emen sudah sedemikian melegenda di Jawa Barat hingga dimitoskan dan diabadikan menjadi nama satu tanjakan penghubung Bandung-Subang.

Banyak versi tentang kisahnya tapi kira-kira begini mitos Tanjakan Emen bermula. Pada era 1960-an, jalan raya Bandung-Subang masih mencekam saat malam dan belum seramai sekarang. Tersebutlah Emen, sopir pengangkut sayuran yang sering pulangi-pergi Bandung-Subang. Kala itu, ia satu-satunya orang yang berani melewati jalan itu saat malam.

Sekali waktu, entah karena apa, kecelakaan menimpanya. Ia tewas di tanjakan di sekitar kawasan Ciater. Emen terjabak dalam mobil yang terbalik dan terbakar hidup-hidup.

Masyarakat sekitar percaya arwah Emen bergentayangan setelah persitiwa itu dan kerap mengganggu pengguna jalan yang melintas di sana.

Setelah kematiannya, banyak kejadian rem blong dan mobil yang melaju tak terkendali yang mengakibatkan kecelakaan parah dan memakan korban jiwa. Bagi yang percaya, semua peristiwa itu terjadi karena ulah Emen.

Itulah kenapa banyak pengguna jalan yang membuang sebatang rokok saat melintas di Tanjakan Emen dengan harapan tidak diganggu sang arwah penasaran dan selamat sampai tujuan. Konon, Emen merupakan pecandu rokok.

Cerita Misteri Tanjakan Emen dan Sebatang Rokok

Cerita Mitos Tanjakan Emen dan Sebatang Rokok

Yanto Heryanto adalah nama sopir mobil yang saya tumpangi kali ini. Sejauh yang ia ingat, perjalanan pulang-pergi Bandung-Subang sebagai sopir pengangkut sayur sudah dijalani selama 20 tahun.

Duapuluh tahun duduk dibaik kemudi. Wajahnya datar melihat apapun yang terjadi di jalanan. Kecelakaan dengan korban yang kakiya terputus tidak membuatnya terkejut.

Bersamanya ikut seorang kernet setia, Jojo Subarjo. Kecuali 30 menit pertama, hampir sepanjang perjalanan Jojo tertidur pulas dengan kepala bersandar pada kaca samping.

Saya duduk di tengah. Ruang kemudi lumayan luas. Saat Yanto mengutak-atik gigi perseneling, tuasnya tidak menggagu kenyamanan saya. Sementara tas perbekalan saya disimpan di bak belakang bersama sayuran.

Yanto adalah satu di antara banyak “Emen” pada masa sekarang. Ia menjalani tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun. Profesi itu digelutinya dengan tekun dan sabar.

Menurut pengakuannya, ia kini berusia 46 tahun. Namun jika diperhatikan, pria asli kelahiran Subang itu masih tampak seperti berusia pertengahan 30-an. Meski badannya sedikit gemuk, gerakannya sangat gesit dan lincah. Rambutnya dipotong pendek hitam mengkilat dan terlihat necis saat dipadukan dengan kaos kuning ketat yang dimasukkan ke dalam celana jins.

Melihat pembawaannya, saya menerka, pekerjaan mengangkut sayur sepertinya sangat menyenangkan. Tidak ada beban pikiran berlebih. Tenaga yang dikeluarkan pun tidak banyak. Sekali bertugas hanya butuh waktu 6-8 jam. Baca JugaCerita MItos Tanjakan Emen Subang.

“Sopir hanya bertugas mengantar. Urusan bongkar-muat diserahkan pada kuli pasar,” ucapnya ketika kami terjebak kemacetan di Gerbang Tol Pasteur.

Katanya, upahnya pun lumayan. Duduk di belakang kemudi lebih dianggapnya sebagai hiburan dan rekreasi. Tak banyak kesulitan ditemui. Kendala terparah hanya seputar mobil mogok dan banyaknya pungutan liar sepanjang rute yang dikutip baik oleh preman jalanan maupun aparat keamanan.

“Sekarang kondisi tubuh sudah melemah. Kena angin sedikit langsung meriang. Diperparah lagi dengan kemacetan yang terkadang bikin stres. Berbeda dengan 20 tahun lalu saat masih muda dan bertanaga,” tuturnya.

Setelah meninggalkan kawasan Lembang, kabut tebal turun dan membuat jarak pandang terbatas. Segala yang berjarak lebih dari 15 meter dari bola mata tampak sebagai bayangan gelap tak dikenal.

Melewati tanjakan Emen dengan beban muatan di bak belakang yang melebihi kapasitas yang diperbolehkan sungguh menghkawatirkan. Yanto pun menurunkan kecepatan mobil secara halus.

“Banyak terjadi kecelakaan di sini (Tanjakan Emen) karena sopir salah membuat perkiraan. Mereka mengira tanjakan tidak terlalu curam sehingga tidak menurunkan kecepatan. Itulah kesalahannya. Biasanya perilaku seperti itu dilakukan sopir dari luar daerah atau yang kurang mengenal karakter tanjakan ini,” ucapnya.

Sejak keluar dari Pasar Induk Caringin, sebatang rokok hampir selalu Yanto jepit di sela-sela jari tangan kananya. Setiap kali rokok terbakar habis, puntungnya ia lempar ke luar jendela. Pun demikian kala melewati tanjakan Emen.

Tingkahnya itu membuat saya tidak bisa menyimpulkan apakah ia melakukannya hanya karena kokok sudah habis atau karena percaya pada mitos Tanjakan Emen.

Di luar, debu jalanan hinggap. Mengendap di daun-daun.

“Ada yang percaya. Ada yang tidak percaya,” ujarnya menjawab tanpa penjelasan lebih lanjut saat ditanya apakah ia termasuk golongan yang pertama atau kedua.

Yanto hanya tersenyum.***

Share.

About Author

Comments are closed.